About Me

Catatan Manila


Undang-Undang Republik Indonesia No.40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pada Pasal 17 ayat (3) menyatakan bahwa peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan: (a) pendidikan politik dan demokratisasi; (b) sumberdaya ekonomi; (c) kepedulian terhadap masyarakat; (d) ilmu pengetahuan dan teknologi; (e) olahraga, seni, dan budaya; (f) kepedulian terhadap lingkungan hidup; (g) pendidikan kewirausahaan; dan/atau (h) kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

SHIFT 2011 Conference: The Future of International Politics adalah salah satu wadah untuk mengaktualisasikan diri. Program yang diselenggarakan oleh University of Asia and The Pacific di Kota Pasig Filipina pada 26-28 Oktober 2011 tersebut menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan. Setidaknya penulis memiliki empat tujuan dalam mengikuti program tersebut yaitu:
1.Sebagai salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat
2.Sebagai salah satu sarana mengimplementasikan ilmu hubungan internasional yang telah diterima di perguruan tinggi
3.Sebagai salah satu wujud partisipasi pemuda Indonesia dalam kancah penelitian dan forum internasional
4.Sebagai salah satu bentuk partisipasi aktif mengoptimalkan diplomasi Indonesia melalui jalur kedua (non-state actors) di kancah internasional

Pada program tersebut penulis merupakan pembicara dengan paper terbanyak di dunia, dengan rincian sebagai berikut:
1.Women Trafficking: A Case Study of Transnational Marriage Between Taiwan Men And Indonesian Women
2.Globalization Impact to Democratization in Southeast Asia: Challenges and Opportunities
3.Indonesia Mengajar: Prospects and Challenges
4.The Analysis of China Investment to Indonesia Pre- and Post- ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA)
5.The Radicalism and Terrorism in Indonesia: Challenges and Solutions
6.The Influence of Stigma among Local Communities to HIV/AIDS Widespread in Papua Indonesia


Selain mendapatkan jejaring dengan para akademisi, praktisi, peneliti dan pemuda dari seluruh negara di dunia, program tersebut menjadi sarana yang tepat untuk mengenal Filipina, khususnya Manila. Kota yang cantik ini tidak berbeda halnya dengan Jakarta Indonesia. Sebagaimana DKI Jakarta yang memiliki kota-kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi; Metro Manila juga memiliki kota penyangga seperti Pasig, Quezon, Mandaluyong, Pasay dan lain sebagainya.

Pada program tersebut penulis tinggal di rumah “orangtua asuh” bernama Ylade yang terletak di pusat kota Manila. Selama sepekan penuh penulis dianggap seperti anak atau saudara sendiri. Menu makanan setiap hari berganti. Saling mengenalkan budaya dan bahasa masing-masing adalah hal yang tidak penulis lupakan. Keluarga Ylade mengajak penulis menyusuri tempat-tempat cantik di kawasan Metro Manila seperti Mall of Asia, Intrasmuros, Manila Cathedral, Rizal Park, Taal Lagoon, Greenbelt, Makaty City, BGC, Market-Market, dan lain sebagainya.

Jika Jakarta memiliki angkutan umum khas yaitu Kopaja/Metromini, Manila memiliki Jeepney. Bajaj, becak, dan sepeda motor mudah ditemui di kota ini. Namun Manila sudah memiliki MRT (Mass Rapid Transportation). Soal gaya hidup, Manila tak ada bedanya dengan Jakarta. Karena pernah dijajah oleh Spanyol dan Amerika Serikat, ditambah dengan pendatang dari Korea, Jepang, Amerika Latin, China, Arab dan negara lainnya, penduduk Manila umumnya heterogen dan berdarah campuran. Sehingga jika berkumpul dengan mereka, akan susah membedakan antar warga Manila atau Indonesia.

Soal makanan, Manila memiliki kekayaan kuliner. Banyak masakan yang memiliki rasa mirip dengan di Indonesia, tentunya dengan nama berbeda. Perihal bahasa, bahasa Tagalog memiliki banyak persamaan dengan bahasa Indonesia. Ketika penulis mengunjungi sebuah mall di sana, terdapat gerai makanan ringan Indonesia bernama Matahari yang menyediakan berbagai masakan dan camilan dari nusantara. Sungguh, Manila memiliki sejuta pesona. Penduduknya ramah dan sangat lancar berbahasa Inggris. Membuat penulis jatuh cinta pada kota ini.

Keberangkatan penulis ke Filipina ini mendapatkan dukungan Philippine Airlines. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan ini. Semoga maskapai ini semakin berjaya dan dapat menarik lebih banyak warga Indonesia untuk bertandang ke Filipina. Sungguh saya terkesan dengan keramahtamahan Pinoy, sebuatan untuk orang Filipina. Mabuhai . . .selalu diucapkan mereka ketika kita mendatangi negeri mereka. Salama . . .

Jakarta, 10 November 2011

Agung Setiyo Wibowo

0 komentar: