About Me

Tampil Mengesankan di India


Sama sekali tak terbayangkan untuk jalan-jalan di negeri orang. Kalau cuman jalan-jalan atau bersenang-senang sih siapapun yang berduit pasti bisa, namun ketika tampil mengesankan orang sebagai pembicara konferensi internasional bukanlah hal yang biasa. Pada 6-13 September 2011 lalu aku mendapatkan kesempatan untuk membagi ilmu-pengalamanku di hadapan ratusan ilmuwan sosial dunia, tepatnya dalam The International Conference on Diaspora and Development: Prospects and Implications for Nation State yang diselenggarakan oleh Indira Gandhi National Open University, New Delhi India. Tak tanggung-tanggung, kampus ini adalah kampus terbesar dengan jumlah mahasiswa terbanyak di dunia.Karena prihatin dengan carut marut manajemen buruh migran di Indonesia, aku mengangkat judul Indonesian Migrant Workers: Foreign Exchange Hero?
.
Ketika kakiku pertama menginjak di bandara internasional Indira Gandhi, magnet India semakin kuat. Ya, India dan China satu dekade terakhir adalah dua negara raksasa yang sangat pesat kemajuan ekonominya. Sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, pertumbuhan India memang sangat mengagumkan. Dengan penduduk yang masif, upah buruh sangat murah, sehingga mendorong investasi di segala lini.

Pelajaran pertama yang ku petik di negeri ini adalah kesederhanaan. Di jalanan, aku tak menemukan mobil-mobil mewah keluaran terbaru sebagaimana di Jakarta. Di kiri dan kanan jalan, ribuan pohon nan teduh menghiasi kota New Delhi. Burung, monyet, kucing, sapi, tupai dan berbagai hewan lain amat bebas menikmati kota ini. Yang lebih mulia, banyak PNS disini yang masih membawa bekal ke kantor dengan bersepeda ontel. Alamak, sederhanan sekali. Coba bayangkan dengan sikap para PNS di Indonesia, lol.

Fasilitas publik sudah amat baik di India. MRT (Mass Rapid Transportation) yang masih menjadi mimpi bagi warga Jakarta, sudah terbangun. Konon, orang India itu mementingkan "substansi" bukan hanya "citra" atau penampilan. Maka jangan heran, jika mayoritas anggota DPR/parlemen, dosen maupun para milyuner disini yang berpenampilan bersahaja. Ketika aku mengunjungi KBRI New Delhi, seorang staf disana pernah bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada kunjungan DPR RI ke parlemen India. Maklum, para DPR RI kita tampil parlente dengan bau parfum menusuk bak model, mereka merasa tersinggung ketika para parlemen India yang menyambut mereka hanya menggunakan kostum seadanya.

Namun, satu hal yang harus segera ditiru Indonesia dari India adalah terjangkaunya biaya pendidikan. Mungkin kita di Indonesia sudah tidak kaget lagi jika harus membayar puluhan juta untuk menempatkan seorang siswa di SMA/SMK sederajat atau bahkan ratusan juta di jurusan favorit tingkat perguruan tinggi. Sangat mahal bukan? Ya eyalah, mahalnya biaya pendidikan di Indonesia mengakibatkan banyak bibit unggul yang tak kesampaian kuliah gara-gara tak ada dana. Sungguh tragis.

India menyulap dirinya dari negara yang miskin menjadi yang diperhitungkan sampai sekarang adalah berkat pendidikan. Percaya atau tidak, biaya pendidikan S2 dan S3 jika dijumlahkan tidak lebih dari biaya pendidikan S1 di Indonesia. Ya, hanya cukup dengan duit 2-5 juta untuk S2 dan begitu pula untuk S3, tidak lebih dari 10 juta. Wah . . .

Terjangkaunya biaya pendidikan telah mengantarkan India sekarang ini menjadi "Macan Asia" bersama China. India menempatkan Bangalore sampai magnet kemajuan teknologi informasi dunia, menyaingi Lembah Silikon. Tak ayal, Bollywood di kota Mumbai juga menjadi produsen film terbesar di dunia, menjadi saingang Hollywood di Amerika Serikat. India juga sudah mampu membuat nuklir, peralatan militer canggih, mobil, bajaj, pesawat, dan masih banyak lagi penemuan baru yang dihasilkannya. Hebatnya lagi, India mampu menarik setidaknya seratus ribu diaspora (warga India perantauan) setiap tahunnya. Bahkan, menyadari potensinya sebagai lumbung tekstil dunia(termasuk Sari yang tersohor), India membentuk Kementerian Tekstil tersendiri. Wow . . . bisa dibayangkan jika ada Kementerian Batik di Indonesia.

Incredible India yang menjadi tagline pariwisata negeri itu memang bukan tagline murahan. Sungguh, negeri ini terus sibuk berbenah. Memang, kemiskinan masih dapat ditemui dimana-mana. Memang, masih ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin dari sekitar 1,2 juta rakyatnya. Tapi India terus berlari cepat, mengejar China dan Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Sampai kapan para PNS di negeri ini bermalas-malasan kerja? Sampai kapan elit politik ribut dan gontok-gontokan demi kepentingannya sendiri? Sampai kapan terjadi konflik SARA? Entahlah, dimulai dari diri sendiri dulu, dari yang kecil. Mari kita nyalakan Indonesia menjadi mercusuarnya dunia di masa yang akan datang. Indonesia, sampai akhir menutup mata :)


Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 14 Oktober 2011

0 komentar: