About Me

The Battle of Algiers

Review Film ini dibuat khusus untuk mata kuliah KEPEMIMPINAN DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL
Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina
Oleh Agung Setiyo Wibowo


Adalah sebuah film yang terinspirasi dari peristiwa bersejarah Perang Al Jazair (1954-1962) melawan kekuasaan kolonial Perancis di Afrika Utara.
Pokok Permasalahan
The Battle of Algiers melukiskan sebuah peristiwa peperangan, terjadi di Al Jir, ibukota Al Jazair-Perancis yang berusaha mengingatkan kembali sebuah peristiwa besar yang terjadi di kota itu (November 1954 – December 1960), selama Perang Kemerdekaan Bangsa Al Jazair.
Jalannya cerita diawali dengan organisasi revolusi penjara di Casbah. Perang sipil berlanjut diantara masyarakat asli Al Jazair dengan penghuni tetap Eropa dimana kekerasan semakin menjadi-jadi, terutama dikawali oleh hadirnya pasukan angkatan bersenjata Perancis guna memburu National Liberation Front (FLN), Front Pembebasan Nasional. Pasukan tersebut digambarkan seolah-olah memenangkan peperangan dengan menetralkan seluruh pimpinan FLN dan juga membunuh atau menangkapnya, meskipun di akhir film ditunjukkan dengan sebuah coda menggambarkan demonstrasi dan kekacauan menuntut kemerdekaan penduduk pribumi Al Jazair, member kesan bahwa Perancis telah memenangkan peperangan, atau dengan kata lain telah mengalahkan Al Jazair.
Alur cerita menjelaskan, betapa bengisnya pemberontakan gerilya FLN dan pemberontakan balik Perancis, serta peristiwa peperangan yang lebih buruk. Para penjajah dan yang terjajah keduanya melawan orang sipil. FLN menyita Casbah melalui eksekusi terhadap penjahat Al Jazair, kaum pengkhianat dan para teroris untuk mengusik colonial Perancis. Selanjutnya penjajah Perancis berusaha menghukum mati tanpa pemeriksaan pengadilan terhadap rakyat dengan tidak pandang bulu. Para pasukan dengan rutin menyiksa, menakut-nakuti dan membunuh para pemberontak FLN.
Reka ulang dari karya Epic, Pontecorvo dan Solinas bersejarah yang meluas ini memiliki beberapa pemeran protagonis. Cerita tersebut diawali dan diakhiri dari pandangan Ali la Pointe (Brahim Hagiag), penjahat picik yang berpolitik radikal dan dipenjara, kemudian ia masuk dalam keanggotaan FLN, berkat jasa Letnan Kolonel Militer fiksi El-hadi Jafar (Saadi Yacef), seorang tokoh terkemuka di masanya.
Letnan Kolobel Mathieu, serorang Komandan Pasukan, adalah pemeran utama Perancis. Pemeran lainnya adalah anak laki-laki bernama Petit Omar, seorang pengemis jalanan nan miskin dan juga menjadi pesuruh FLN; Larbi Ben M’hidi, pemimpin tertinggi FLN, adalah dasar pemikiran politik film untuk pemberontakan; Djamila, Zohra dan Hassiba, adalah tiga wanita gerilyawan FLN yang mengakibatkan serangan balas dendam.
Kritik Terhadap Film
Penulis menghargai film the Battle of Algiers atas manfaat teknis dan cukup menggambarkan keadilan di kedua belah pihak. Pontecorvo menentang usaha apapun untuk meromantiskan protagonist. Kekejaman yang dilakukan oleh FLN dan Perancis keduanya digambarkan dengan jelas. Film ini tidak menampakkan kebengisan siapapun dan pemeran utama Perancis, Col Mathieu digambarkan sebagai seseorang yang kharismatik dan prajurit yang baik.
Secara umum film ini amat baik dan sayang sekali untuk dilewatkan. Menurut beberapa bacaan yang saya cerna setelah menontonnya, film tersebut memenangkan Venice Film Festival sebagai nominasi scenario terbaik, direktur terbaik dan film berbahasa asing terbaik. Penghargaan lainnya adalah The City of Venice Cinema Prize (1966); the International Critics Award (1966); the City of Imola Prize (1966); the Italian Silver Ribbon Prize Ajace Prize of the Cinema d'Essai (1967); the Italian Golden Asphodel (1966); Diosa de Plata at the Acapulco Film Festival (1966); the Golden Grolla (1966); the Riccione Prize (1966); dan masih banyak lagi.
Perdebatan Politik tahun 1960-an
Film ini pernah menjadi perdebatan politik nan luas di Perancis dan terlarang untuk jangka waktu lima tahun. Beberapa adegan penyiksaan dipotong dari versi Amerika dan Inggris seperti adegan pembakaran rumah terhadap Perancis. Simpati dan kepopuleran FLN dalam The Battle of Algiers sering mencemaskan hati mantan kolonial Perancis beserta pasukannya.
Perang Al Jazair dan Gerakan Gerilya
Hadirnya film ini bertepatan dengan periode dekolonisasi dan perang kemerdekaan nasional, sebagaimana pasangya kelompok sayap kiri radikal pada bangsa-bangsa Barat dimana minoritas menunjukkan kepentingan perjuangan bersenjata. Diawali tahun 1960-an, The Battle of Algiers memperoleh reputasi untuk kekerasan politik yang menginspirasi, khususnya taktik perang gerilyawan kota dan terorisme.
Mode dan Produksi Film
The Battle of Algiers dibuat serupa dengan Neorealism di Italia, cinéma vérité di Perancis, dan Socialist Realism di Rusia, gerakan perfilman yang terinspirasi untuk menciptakan penggambaran semangat orang-orang yang luar biasa.
Skenario/Cerita Film
Film ini terinspirasi Souvenirs de la Bataille d'Alger karya Saadi Yacef, Letnan Kolonel militer FLN. Sedangkan versi bukunya, ditulis oleh Yacef ketika seorang narapidana Perancis, mendapatkan propaganda semangat yang tinggi oleh FLN untuk militan. Sesudah merdeka, Yacef terbebas dan menjadi bagian dari pemerintahan baru. Pemerintah Al Jazair mendukung film ini; sementara itu seorang anggota FLN dalam pengasingan Salash Baazi mendekati direktur Gillo Pontecorvo dan penulis naskah Franso Solinas demi tercapainya pembuatan film ini.
Naskah film pertama Solinas berjudul Parà, adalah cerita yang diambil dari pespektif prajurit Perancis, Paul Newman dan Pontecarvo. Baazi menolak gagasan tersebut karena mengurangi latar belakang penderitaan rakyat Al Jazair. Selain itu, Yacef menulis naskah filmnya sendiri walaupun lagi-lagi harus ditolak oleh produser Italia karena dinilai terlalu memihak Al Jazair. Akhirnya, naskah film tersebut dibuat netral (tak memihak golongan tertentu) dengan pemeran utama orang Al Jazair dan menggambarkan kekejaman dan penderitaan kedua belah pihak.
Meskipun terbuat berdasarkan peristiwa nyata, The Battle of Algiers mengubah beberapa karakter, dan nama-nama pelaku tertentu, misalnya Kolonel Mathieu adalah dibuat dari pemberontak Perancis, Jacques Massu. Tokoh tersebut dikenal tak elegan dan berbudi, penulis naskah Solinas lalu dengan sengaja meniadakannya; Kolonel adalah elegan dan berbudaya, karena peradaban Barat tidak elegan dan tidak pula berbudaya.
Tata Musik dan Suara
Baik musik maupun efek menampilkan fungsi penting dalam film. Pontecorvo menyatakan menghabiskan banyak waktu untuk mengedit instrumen Leitmotifs dalam kesempatan ini. Instrumen ini pada akhirnya tergabung dalam Orchestral Score oleh Ennio Morricone untuk menaikkan pengaruh emosional dan menimbulkan kesejajaran diantara peristiwa, adegan orang Al Jazair maupun Perancis keduanya dibuat sedemikian rupa dengan elegiac music. Pribumi Al Jazair lebih ditampilkan bertambur daripada berdialog, terdengar ketika adegan militant FLN wanita menyiapkan pengeboman. Di lain sisi, Pontecorvo menggunakan suara tembakan, helikopeter dan mesin-mesin truk untuk mensimbolkan pendekatan Perancis dalam peperangan; ketika bom meledak, ululation, meratap dan mengambang suaranya, menggambarkan pendekatan Al Jazair.

Relevansi Film Dengan Mata Kuliah Kepemimpinan Dalam Hubungan Internasional
Istilah terorisme dan terror mempunyai akar kata dalam bahasa Perancis. Terorisme didefinisikan Suplemen Dictionanaire d’Academie Francaise pada 1798 sebagai “systeme, regime de la terreur” dalam kamus bahasa Perancis yang terbit 1796, menyebutkan terorisme dalam pengertian positif. Tapi semenjak masa Thermedor kesembilan, kata teroris menjadi istilah peyoratif yang sering dikaitkan dengan dunia kriminal.
Menurut Azyumardi Azra, “terorisme” merupakan masalah moral yang sulit karena sering didasarkan pada asumsi bahwa sejumlah tindakan kekerasan khususnya menyangkut politik (political violence) adalah justifiable dan sebagian lagi unjustifiable. Kekerasan kedua tersebut dikelompokkan ke dalam bagian terakhir yang disebut dengan teror atau terorisme. Namun, definisi justifiable dan unjustifiable itu sendiri masih simpang siur, kekerasan yang sebagian orang tidak dibenarkan dapat sangat mungkin menjadi dibenarkan pihak lainnya.
Contohnya adalah, tindakan kekerasan yang dilakukan kalangan garis keeras PLO dipandang Barat sebagai terorisme. Pihak Barat mengklaim bahwa PLO sebagai organisasi teroris yang tidak memiliki legitimasi politik, yang menggunakan metode-metode kekerasan yang tidak sah untuk mencapai tujuan-tujuannya. Sebaliknya pihak lain memandang PLO sebagai wakil sah rakyat Palestina yang tertindas, menggunakan kekerasan yang memang diperlukan dan justifiable, bukan terorisme untuk mencapai tujuan-tujuan yang adik, sah dan terelakkan.
PLO (Palestine Liberation Organization) di Palestina tidak jauh berbeda dengan National Liberation Front (NLF) di Al Jazair yang terbentuk untuk mengusir Perancis sebagai penjajah dan mewujudkan kebebasan dan kemerdekaan rakyat Al Jazair. Tapi keduanya berujung sama, apakah sebuah tindakan disebut teroris atau tidak terletak pada justifikasi moral yang mendefinisikannya. Wilkison dalam Terrorism and the liberal state (1997) mendefinisikan terorisme terletak pada subjektif teror itu sendiri. Umat manusia mempunyai akar-akar ketakutan yang berbeda-beda. Pengalaman-pengalaman pribadi dan latar belakang budaya yang berbeda membuat citra atau ketakutan berbeda pula satu sama lain.
Kembali pada prinsip fundamental dari terorisme, penggunaan teror sebagai tindakan simbol berbeda dengan secara personal dan criminal, rancangan untuk mempengaruhi kebijaksanaan dan tingkah laku politik secara ekstranormal, khususnya penggunaan kekerasan. Menurut T.P. Thornton dalam bukunya Terror as a weapon of Political Agitation mengklasifikasikan terorisme menjadi dua macam. Pertama, enforcement terror yang dijalankan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka. Kedua, agitational terror yakni kegiatan teroristik yang dilakukan untuk mengganggu tatanan politik yang sudah mapan kemudian menguasai tatanan politik baru.
Sedangkan menurut W.F.May, terrorism as strategy and ecstasy, menurut beliau terorisme terbagi menjadi dua bagian. Pertama, penguasa teror (regime terror) dan cengkraman suasana teror (siege of terror). Yang pertama merujuk pada terorisme untuk melayani kekuasaan mapan. Yang kedua mengacu kepada terorisme untuk kepentingan gerakan-gerakan revolusioner.
Wilkison dalam Political Terrorism membedakan empat jenis terorisme: kriminal, psikis, perang dan konflik. Terorisme kriminal dimaknai sebagai penggunaan teror secara sistematis untuk mencapai tujuan-tujuan meteriil; terorisme psikis mempunyai tujuan-tujuan mistik, keagamaan atau magis; terorisme perang bertujuan melumpuhkan lawan, menghancurkan pertahanannya; sedangkan terorisme politik secara umum didefinisikan sebagai penggunaan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Hubungan Antara Perang Al Jazair dan Film The Battle of Algiers
Harus diakui bahwa kesuksesan pembuatan film ini tak bisa dilepaskan dari peristiwa nyata, Perang Al Jazair. Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Kemerdekaan Al Jazair atau dalam bahasa Perancis, Guerre d'Algérie, yaitu sebuah konflik berkepanjangan antara Perancis dan gerakan kemerdekaan Al Jazair dari 1954 sampai 1962 yang pada akhirnya membuat Al Jazair merdeka dari Perancis. Sebuah perang dekolonisasi yang penting nan amat substansinya yaitu perang gerilya, terorisme melawan penduduk sipil, dimana keduanya melakukan penganiayaan dan operasi melawan terorisme oleh angkatan bersenjata Perancis. Secara simultan FLN (National Liberation Front) berdiri pada 1 November 1954 selama Toussaint Rouge (All Saints' Day), konflik yang menyebabkan fondasi Republik Perancis Ke empat (1946-1958) runtuh.
Perang ini adalah konflik multi permukaan yang melibatkan sejumlah besar gerakan yang bersaingan dimana satu sama lain saling melawan dalam waktu yang berbeda. Pada pihak pro kemerdekaan, FLN secara kejam melawan Algerian National Movement (MNA) di Al Jazair dan Café Wars di daratan Perancis, sedangkan pihak pro-Perancis, tentara Perancis memecah di tengah dua kubu yang saling baku hantam, yaitu ketika organisasi sayap kanan de l'armée secrete (OAS) melawan baik FLN maupun pemerintah Perancis.
Atas petunjuk dari pemerintah SFIO Guy Mollet, tentara Perancis menginisiasikan kampanye ‘pendamaian’ atas apa yang benar-benar dipertimbangkan pada waktu itu untuk secara penuh menjadi bagian dari Perancis. Operasi Umum ini secara cepat meluas menjadi perang yang berskala besar. Masyarakat Al Jazair yang sebelumnya telah ingin berdamai, berbalik haluan untuk menuntut kemerdekaan, berkat bantuan negara-negara Arab dan pada umumnya masyarakat internasional dengan gagasan anti kolonialismenya. Sementara itu, Perancis menggembar-gemborkan dirinya pada isu “Al Jazair-Perancis”: apakah mau tetap status quo, merundingkan status penengah diantara merdeka dan integrasi penuh dengan Republik Perancis, atau membiarkan kemerdekaan mutlak. Tentara Perancis akhirnya memperoleh kemenangan militer pada perang, akan tetapi situasi berubah dan kemerdekaan Al Jazair pun tidak dapat dihindarkan lagi.
Disebabkan ketidakstabilan parlemen Perancis, Republik Ke Empat Perancis dibubarkan dengan kembalinya Charles de Gaulle untuk berkuasa selama krisis Mei 1958 dan kemudian melatarbelakangi Republik Ke Lima dan berkembangnya konstitusi baru yang dibentuk olehnya dan para pengikut Gaullist-nya. Kembalinya kekuasaan De Gaulle diduga untuk menjamin pendudukan lanjutan Al Jazair dan integrasi dengan masyarakat Perancis, yang telah berganti Uni Perancis dan menjadi jajahan Perancis. Bagaimanapun juga kekuasaan De Gaulle membawa kemerdekaan Al Jazair yang tak terelakkan. Rupanya De Gaulle memberikan kelonggaran rakyat Al Jazair untuk menentukan nasibnya. Akhirnya, rakyat Al Jazair memilih untuk merdeka dan Perancis pun berunding dengan FLN, hingga pada Maret 1962 Perjanjian Evian menghasilkan kemerdekaan untuk Al Jazair. Setelah gagal pada April 1961, Algiers putsch diatur oleh pimpinan musuh untuk berunding, diketuai oleh Michel Debre, pemerintah Gaullist, OAS (Organisation de l'armée secrète), yang menggabungkan bermacam-macam lawan politik kemerdekaan Al Jazair, menggagas untuk mengebom sebaik serangan dan demonstrasi nan damai di Al Jazair guna menolak Perjanjian Evian dan mengasingkan warga Al Jazair-Eropa asli. Ahmed Ben Bella, yang telah ditahan pada 1956 oleh petinggi FLN lainnya, menjadi presiden pertama Al Jazair. Relevansi saat ini adalah bahwa perang telah menyuguhkan kerangka strategi penting untuk pemikir pemberontakan balasan, walaupun penganiayaan yang dilakukan oleh Perancis telah memprovokasi perdebatan moral dan politik pada legitimasi dan keefektifan beberapa metode. Perdebatan ini tak kunjung selesai seperti halnya penganiayaan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Perang Al Jazair adalah babak baru dalam peristiwa sejarah modern Al Jazair yang sampai saat ini masih membekas luka dalam baik pada masyarakat Al Jazair maupun Perancis, dan masih mempengaruhi sebagaian masyarakat di kedua negara. Sesudah pemilihan legislatif 1997, dimenangkan oleh Partai Sosial, Dewan Nasional secara resmi baru mengakui pada Juni 1999, 37 tahun sesudah berakhirnya perang. Sementara itu, Pembunuhan Massal Paris 1961 diakui oleh negara Perancis baru pada Oktober 2001; di lain pihak Pembunuhan Massal Oran 1962 oleh FLN belum diakui oleh negara Al Jazair.

0 komentar: